Viral! Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung, PDIP: Bagian dari adat atau Bentuk Kesombongan?

Wednesday, 16 September 2026, 03:48 am

SUARA RAKYAT NEWS – Video yang memperlihatkan mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau dalam sebuah prosesi adat di Lampung menjadi viral di media sosial dan memicu beragam respons publik. Di satu sisi, tokoh adat menegaskan prosesi tersebut merupakan simbol filosofi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di sisi lain, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, menilai tindakan tersebut tidak tepat dari sisi etika penghormatan terhadap hewan kurban.

Perbedaan pandangan itu menjadikan prosesi adat Lampung sebagai sorotan nasional, sekaligus memunculkan diskusi mengenai pemaknaan tradisi, simbol budaya, dan persepsi publik ketika sebuah ritual adat menjadi konsumsi masyarakat luas.

Tokoh Adat: Simbol Membuang Sifat Buruk dan Kesiapan Mengemban Amanah

Tokoh adat Lampung, Jamiluddin, menjelaskan bahwa prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari tata cara adat yang sarat makna filosofis. Menurutnya, ritual tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan hewan ataupun mengandung pesan politik.

Ia mengatakan, kepala kerbau dalam prosesi adat melambangkan sifat-sifat buruk yang harus ditinggalkan oleh seseorang sebelum mengemban amanah yang lebih besar sebagai pemimpin masyarakat.

«”Prosesi ini memiliki makna khusus. Menginjak kepala kerbau bermakna sebagai simbol membuang sifat-sifat buruk manusia. Ini juga melambangkan kerendahan hati dan kesiapan seorang pemimpin untuk mengayomi masyarakat sesuai nilai-nilai luhur adat,” jelas Jamiluddin.»

Ia juga menegaskan bahwa seluruh rangkaian prosesi telah dilaksanakan sesuai ketentuan adat Lampung dan tidak memiliki kaitan dengan dinamika politik maupun hubungan Jokowi dengan partai politik tertentu.

«”Ini murni prosesi adat sebagai bentuk penghormatan, bukan simbol politik ataupun pesan kepada pihak tertentu,” tegasnya.»

PDIP: Hewan dalam Upacara Adat Tetap Harus Diperlakukan dengan Hormat

Meski penjelasan dari tokoh adat telah disampaikan, Ketua DPP PDIP Guntur Romli tetap menyampaikan pandangan berbeda.

Menurutnya, dalam banyak tradisi di Indonesia, hewan yang digunakan dalam upacara adat maupun kurban umumnya diperlakukan dengan penuh penghormatan.

«”Saya juga tidak tahu kalau maksudnya seperti itu menurut adat sana. Tapi biasanya, kalau hewan yang dikurbankan itu dihormati, bukan diinjak seperti itu,” ujar Guntur.»

Ia menambahkan bahwa di sejumlah daerah lain, bagian tubuh hewan yang digunakan dalam upacara adat justru dijadikan simbol penghormatan.

Meski demikian, Guntur menegaskan bahwa penilaiannya merupakan pandangan pribadi dan menyerahkan penilaian akhir kepada masyarakat.

Bantah Dikaitkan dengan Lambang Banteng PDIP

Guntur juga meluruskan narasi yang berkembang di media sosial yang mengaitkan prosesi tersebut dengan lambang banteng milik PDIP.

Menurutnya, hewan yang digunakan dalam prosesi adat tersebut adalah kerbau, bukan banteng. Karena itu, kritik yang disampaikannya tidak berkaitan dengan simbol partai, melainkan lebih pada pandangannya mengenai etika dalam memperlakukan hewan yang menjadi bagian dari sebuah prosesi.

Tradisi Lokal Bertemu Ruang Publik Nasional

Viralnya video tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi budaya dapat memunculkan beragam penafsiran ketika memasuki ruang publik nasional, terlebih melibatkan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar.

Bagi masyarakat adat Lampung, prosesi tersebut merupakan bagian dari warisan budaya yang memiliki makna filosofis mendalam dan telah dijalankan secara turun-temurun. Sementara bagi sebagian kalangan, visual yang beredar di media sosial memunculkan pertanyaan mengenai etika dan kepatutan apabila dilepaskan dari konteks adat.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan tambahan dari pihak Jokowi terkait polemik tersebut.

Perbedaan pandangan ini menjadi pengingat bahwa setiap tradisi daerah memiliki nilai dan filosofi yang perlu dipahami dalam konteks budaya setempat. Di sisi lain, ruang publik tetap memberikan kesempatan bagi berbagai pihak untuk menyampaikan pandangan maupun kritik secara terbuka sebagai bagian dari dinamika demokrasi.

Redaksi/Suara Rakyat News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *