Saat Gereja Lebih Sibuk Mengejar Persembahan daripada Pertobatan

Saturday, 13 June 2026, 13:36 pm

Memberi untuk pekerjaan Tuhan adalah wujud kasih dan iman. Tetapi ada yang mulai keliru ketika mimbar dipenuhi janji kemakmuran, sementara hati jemaat perlahan ditekan dengan rasa takut dan rasa bersalah.

Tidak sedikit jemaat dibuat seolah-olah ukuran iman ditentukan dari besar kecilnya persembahan. Berkat diperdagangkan dengan kata-kata manis, seakan Tuhan hanya bekerja bagi mereka yang mampu memberi lebih banyak.

Padahal Tuhan tidak pernah mengajar umat-Nya memberi karena tekanan. Tuhan juga tidak membutuhkan persembahan yang lahir dari ketakutan.

Yang Tuhan cari adalah hati yang tulus.

Ironisnya, banyak orang terus didorong untuk memberi, tetapi jarang dibimbing untuk bertobat, hidup benar, menjaga kekudusan, atau bertumbuh dewasa secara rohani. Mimbar lebih sibuk menjanjikan “dibalas berlipat ganda” daripada mengajarkan salib, pengorbanan, dan kesetiaan.

Akibatnya, iman berubah menjadi transaksi.
Memberi bukan lagi karena cinta kepada Tuhan, tetapi karena takut tidak diberkati.
Pelayanan kehilangan roh penggembalaan dan perlahan berubah menjadi tekanan emosional berkedok rohani.

Gereja seharusnya menjadi tempat memulihkan jiwa, bukan tempat memainkan ketakutan manusia demi kepentingan tertentu.

Sebab persembahan yang paling berharga di hadapan Tuhan bukanlah yang paling besar nilainya, melainkan yang diberikan dengan hati yang bersih, rela, dan penuh sukacita.

> “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” — 2 Korintus 9:7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *