JAKARTA — Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap rokok elektrik atau vape sebagai pilihan aman untuk menggantikan rokok konvensional.
Peringatan tersebut disampaikan Budi melalui video yang diunggah di akun Instagram resminya, @bgsadikin, Sabtu (15/8/2026). Dalam video itu, ia menyoroti perilaku perokok yang berhenti mengonsumsi rokok konvensional, tetapi kemudian beralih menggunakan vape.
«“Kalian nih, disuruh berhenti merokok malah pindah ke vape,” ujar Budi.»
Hingga Senin (17/8/2026), unggahan tersebut telah mendapat lebih dari 18.000 likes dan ribuan komentar dari warganet.
Nikotin Tinggi dalam Satu Pod
Budi memperlihatkan contoh vape jenis pod sekali pakai dengan kadar nikotin 5 persen. Ia menyebut kandungan nikotin produk tersebut berada di kisaran 40–50 miligram.
Menurut Budi, jumlah nikotin tersebut setara dengan kandungan nikotin dalam satu bungkus rokok konvensional yang berisi sekitar 12–16 batang.
«“Satu pod ini nikotinnya setara dengan satu bungkus rokok yang isinya antara 12 sampai 16 batang,” katanya.»
Budi juga menyoroti banyaknya varian rasa pada vape, termasuk rasa buah-buahan. Menurutnya, pilihan rasa tersebut dapat membuat pengguna lebih mudah menikmati vape sehingga tidak menyadari seberapa sering mereka mengisapnya.
Cairan Vape Dipanaskan
Selain nikotin, Budi mengingatkan adanya potensi paparan zat berbahaya dari proses pemanasan cairan vape.
Ia menyebut pemanasan cairan vape dapat menghasilkan senyawa seperti formaldehida.
«“Begitu cairan vape ini dipanasin, yang keluar adalah formalin,” ujar Budi.»
Menurutnya, tampilan vape yang beragam dan dianggap modern juga menjadi daya tarik tersendiri. Namun, penampilan dan aroma yang menarik tidak berarti produk tersebut bebas risiko bagi kesehatan.
Bisa Ganggu Saluran Pernapasan
Penggunaan vape juga dikaitkan dengan berbagai gangguan pada sistem pernapasan. Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah bronchiolitis obliterans, yakni penyakit yang menyerang bronkiolus atau saluran udara terkecil di paru-paru dan sering disebut popcorn lung.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan sejumlah gejala, antara lain sesak napas, batuk, mengi, serta mudah merasa lelah. Batuk yang muncul umumnya berupa batuk kering dan dapat semakin terasa ketika melakukan aktivitas fisik.
Karena itu, Budi mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan risiko kesehatan akibat penggunaan vape maupun produk tembakau lainnya.
Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi gangguan kesehatan sejak dini.
«“Itu sebabnya cepat-cepat lakukan cek kesehatan gratis di puskesmas,” pungkas Budi.»
Pesan Menkes menjadi pengingat bahwa berhenti merokok bukan berarti sekadar mengganti rokok konvensional dengan vape. Upaya yang lebih penting adalah menghentikan ketergantungan terhadap nikotin demi menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Redaksi/ SRN



