Jakarta — Kenaikan harga plastik hingga 30–80 persen sejak awal 2026 mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman.
Ketergantungan pada kemasan plastik sekali pakai membuat biaya produksi meningkat di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua DPR RI Puan Maharani menilai kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk beralih ke kemasan berbahan alami.
“Harga plastik yang melonjak dan pasokan yang mulai terbatas membuat pelaku usaha kecil semakin tertekan. Padahal, sejak dulu masyarakat kita telah menggunakan bahan alami seperti daun sebagai kemasan,” ujar Puan.
Menurut dia, pemanfaatan daun pisang, daun jati, dan bahan organik lainnya bukan hal baru dalam praktik kuliner Indonesia.
Sejumlah makanan tradisional seperti nasi liwet, gudeg, lontong, dan lemper masih menggunakan daun sebagai pembungkus.
Selain dinilai lebih ramah lingkungan, kemasan berbahan alami juga memiliki nilai tambah.
Dalam beberapa kasus, penggunaan daun dapat menjaga kualitas makanan sekaligus memberikan aroma khas yang meningkatkan daya tarik produk.
Puan menilai, pemanfaatan kemasan organik yang berbasis kearifan lokal juga dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif.
Langkah ini dinilai tidak hanya mendukung pelestarian budaya, tetapi juga mendorong pengurangan sampah plastik.
Ia menambahkan, peralihan ke kemasan ramah lingkungan sejalan dengan upaya pencapaian target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam pengurangan limbah plastik.
***



