JAKARTA — Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Lodewyk Pusung mengungkap peran mantan Kepala BGN Nanik S Deyang dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026), Lodewyk menyebut Nanik memiliki dapur pelayanan MBG. Ia juga mengungkap Nanik disebut beberapa kali membawa nama Presiden Prabowo Subianto saat berkomunikasi dengannya.
Lodewyk menyampaikan keterangan tersebut secara daring ketika membeberkan dinamika internal BGN dalam perkara dugaan korupsi program MBG.
Menurut Lodewyk, Nanik pernah menghubunginya dan menyebut nama Presiden Prabowo saat membicarakan dapur pelayanan tersebut.
“Karena saya mau jelaskan ini, Ibu Nanik itu juga punya dapur. Dia setiap saat telepon saya waktu itu dan dia gunakan itu namanya Pak Presiden. ‘Ini punya Pak Presiden, ini punya Pak Presiden, Ibu ini temannya Pak Presiden’,” ujar Lodewyk.
Lodewyk mengatakan dirinya sengaja menyampaikan informasi tersebut di persidangan agar seluruh persoalan internal BGN dapat diketahui secara terang.
“Saya harus bicara apa adanya di sini sehingga jelas, biar jelas semuanya ini,” tegasnya.
Selain mengungkap soal dapur MBG milik Nanik, Lodewyk memaparkan pembagian tugas tiga wakil kepala BGN di bawah kepemimpinan Dadan Hindayana.
Ia menyebut dirinya menangani bidang organisasi dan hubungan antarlembaga, Sony Sonjaya di bidang operasional, sedangkan Nanik bertanggung jawab pada bidang investasi.
“Saya ditunjuk oleh Pak Dadan sebagai Waka BGN bidang organisasi dan hubungan antar lembaga. Kemudian Pak Sony (Sony Sonjaya) bidang operasional, kemudian Ibu Nanik itu investasi. Jadi kegiatannya jadi tiga ya. Kami bertiga wakil itu membantu Pak Dadan,” katanya.
Lodewyk juga membantah tudingan bahwa dirinya pernah melakukan intervensi terhadap proses pengadaan barang dan jasa di BGN.
Ia menegaskan tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri pengadaan dan mengaku tidak pernah dilibatkan dalam rapat pengadaan.
“Saya paham betul bahwa saya ini hanya wakil. Sehingga saya tidak mungkin mengintervensi pengadaan-pengadaan itu. Terus terang saya rapat pengadaan itu tidak pernah diundang. Saya tidak pernah ikut dalam rapat pengadaan,” ujarnya.
Menurut Lodewyk, dirinya hanya pernah satu kali memimpin rapat terkait teknologi informasi (IT) di Gedung Kementerian Pertanian. Rapat itu membahas perangkat IT yang akan diserahkan kepada Perum Gizi.
Ia menegaskan rapat tersebut bukan bagian dari intervensi pengadaan.
“Di situ terus dirumuskan IT apa yang mau diserahkan kepada Perum Gizi, itu Perum Gizi atau apa. Dan saya katakan di situ bahwa ini saya tidak akan ikut campur di tempat ini,” kata Lodewyk.
Redaksi/ SRN



