Di Balik Anggaran Rp 1,6 Miliar, Jejak Rp 800 Juta di Lapangan

Wednesday, 10 June 2026, 01:06 am

Dugaan ketimpangan anggaran dalam proyek pembangunan Gedung Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih mulai mencuat. Sejumlah kontraktor mengaku nilai pekerjaan yang mereka tangani hanya sekitar Rp 800 juta, dari total anggaran Rp 1,6 miliar per unit. 

Selisih itu belum terjelaskan. 

Ekonom Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Gede Sandra, menyebut informasi tersebut ia peroleh dari komunikasi dengan kontraktor di lapangan, salah satunya di Jawa Barat. Menurutnya, terdapat jarak yang cukup lebar antara angka dalam dokumen dan realisasi fisik. 

“Nilainya Rp 1,6 miliar, tapi yang dikerjakan sekitar Rp 800 juta. Selebihnya tidak terlihat dalam bentuk bangunan,” ujar Gede, Ahad (3/5). 

Ia menekankan, informasi ini masih bersifat awal dan belum diverifikasi menyeluruh. Namun jika pola serupa terjadi di banyak lokasi, persoalan bisa jauh lebih besar. Dengan target pembangunan 80 ribu unit Kopdes Merah Putih, selisih Rp 800 juta per unit berpotensi berakumulasi hingga sekitar Rp 64 triliun. 

Di tingkat pelaksana, keterbatasan anggaran disebut berdampak pada mutu pekerjaan. Kontraktor menyesuaikan spesifikasi dengan biaya yang tersedia. Perbandingan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) menunjukkan proyek serupa dapat diselesaikan dengan kisaran Rp 700 juta. 

Di antara dua angka itu—Rp 1,6 miliar dalam dokumen dan sekitar Rp 800 juta di lapangan—terdapat ruang yang belum sepenuhnya terang. 

Gede juga menyinggung kemungkinan adanya mata rantai distribusi anggaran sebelum dana sampai ke kontraktor. Alur tersebut, menurutnya, perlu ditelusuri, termasuk peran pihak perantara maupun badan usaha yang terlibat dalam pelaksanaan proyek. 

Program Kopdes Merah Putih merupakan salah satu prioritas pemerintah. Karena itu, transparansi menjadi krusial agar program ini tidak menyisakan pertanyaan di ruang publik. 

“Efisiensi anggaran tidak hanya soal penghematan, tapi juga memastikan setiap rupiah sampai ke tujuan,” kata Gede. 

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya soal angka, melainkan soal aliran: ke mana selisih itu bergerak, dan siapa yang mengetahui jalurnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *