JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai polemik. Bukan hanya soal makanan yang diduga membuat siswa sakit, tetapi kini muncul perdebatan mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab memastikan makanan aman sebelum dikonsumsi.
Polemik itu mencuat setelah Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University sekaligus Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, menyoroti peran sekolah dalam pengawasan makanan MBG.
Hardinsyah menyebut guru semestinya melakukan pemeriksaan awal terhadap makanan yang diterima sekolah, salah satunya dengan mencium aroma makanan sebelum dicicipi.
“MBG itu kan ada porsi untuk guru. Guru cium dululah sebelum dicicip. Jangan dimakan, telepon SPPG, ‘Pak ini aroma sudah tidak enak, ambil’. Gitu kan,” kata Hardinsyah dalam sebuah diskusi.
Menurutnya, apabila mekanisme tersebut telah menjadi bagian dari standar operasional prosedur (SOP), tidak dijalankannya prosedur itu dapat dikategorikan sebagai kelalaian dalam pengawasan.
“Kalau SOP begitu, itu kan kelalaian menggunakan SOP. Karena apa, tidak ada yang ngawasin, tidak ada yang ngingetin,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sontak mendapat kritik dari Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri.
Iman menilai pandangan tersebut berpotensi membebankan persoalan keamanan makanan MBG kepada guru dan sekolah, padahal makanan diproduksi dan disiapkan melalui rantai penyediaan sebelum sampai ke tangan siswa.
Melalui akun X pribadinya, Iman mempertanyakan pandangan yang mengaitkan keracunan MBG dengan kelalaian di sekolah karena guru tidak mencicipi makanan terlebih dahulu.
“Menurut Hardinsyah, keracunan MBG disebabkan kelalaian di sekolah. Karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu,” tulis Iman, dikutip Minggu (13/9/2026).
Iman bahkan menilai persoalan menjadi janggal ketika makanan yang bermasalah justru berujung pada sorotan terhadap guru.
“MBG yang beracun, lantas yang disalahkan gurunya. Ini sudah sangat keterlaluan,” tegasnya.
Ia juga mempersoalkan bertambahnya beban yang harus dijalankan guru dalam pelaksanaan program MBG.
“Mana anggarannya diambil, haknya diambil, jam ngajarnya diambil, suruh bagiin pula, nyicipin juga. Keracunan, guru disalahkan juga,” ujar Iman.
Guru Diminta Jadi Penyaring Terakhir
Perdebatan ini bukan kali pertama P2G mempersoalkan pelibatan guru dalam pelaksanaan MBG.
Dalam kritik sebelumnya, Iman menegaskan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, bukan mempertaruhkan kesehatan untuk mendeteksi makanan yang berpotensi berbahaya.
P2G juga pernah menyoroti kebijakan yang memberikan peran kepada guru sebagai penanggung jawab MBG di sekolah. Menurut Iman, guru tidak memiliki kompetensi khusus untuk mendeteksi makanan beracun hanya dengan mencicipinya.
Karena itu, menurut perspektif P2G, pemeriksaan keamanan pangan seharusnya menjadi bagian dari sistem pengawasan yang dilakukan sejak makanan diproduksi hingga didistribusikan, bukan semata-mata dibebankan kepada guru ketika makanan telah tiba di sekolah.
P2G Tantang Debat Terbuka
Iman tidak berhenti pada kritik melalui media sosial. Ia bahkan menyatakan kesiapannya bertemu langsung dengan Hardinsyah untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka.
“Kalau ada yang bisa mempertemukan saya dengan beliau, debat terbuka dan live. Saya bersedia,” kata Iman.
Ia kembali menegaskan tantangannya agar diskusi dilakukan secara langsung.
“Ayo, siapa yang bisa nemuin. Tantangan terbuka. Offline, saya mau lihat mukanya langsung,” pungkasnya.
Polemik ini pada akhirnya membawa persoalan MBG ke pertanyaan yang lebih mendasar: apakah guru memang harus menjadi benteng terakhir keamanan makanan, atau sistem keamanan pangan seharusnya sudah memastikan makanan aman sebelum tiba di sekolah?
Sebab ketika makanan yang seharusnya memberikan gizi justru diduga menyebabkan siswa sakit, persoalannya tidak cukup hanya berhenti pada siapa yang mencicipi atau tidak mencicipi.
Yang perlu dijawab adalah di mana letak kegagalan pengawasan, bagaimana SOP dijalankan, dan siapa yang memegang tanggung jawab utama atas keamanan makanan dari dapur hingga meja siswa.
Redaksi/ SRN



