Rupiah Menguat ke Rp17.679, Dolar AS Tertekan Data Tenaga Kerja

Wednesday, 16 September 2026, 03:45 am

JAKARTA — Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), ketika dolar Amerika Serikat (AS) tertekan oleh data ketenagakerjaan yang menunjukkan pelemahan.

Rupiah ditutup menguat 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.679 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.763 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Salah satu data yang menjadi sorotan adalah ADP Employment Change. Penambahan tenaga kerja sektor swasta AS pada Agustus 2026 hanya mencapai 38 ribu orang, di bawah perkiraan pasar sebesar 47 ribu dan turun dari 46 ribu pada bulan sebelumnya.

Pelemahan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Kondisi ini berpotensi memengaruhi keputusan The Fed sekaligus menekan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan data ketenagakerjaan AS menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah.

Tekanan terhadap dolar tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang berada di sekitar level 99,27. Pelemahan dolar memberikan ruang bagi sejumlah mata uang Asia untuk menguat.

Sentimen positif juga datang dari harga minyak yang terkoreksi setelah sebelumnya berada di level tinggi. Penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan terhadap negara-negara yang masih bergantung pada impor energi.

Namun, ruang penguatan rupiah masih dibayangi risiko global. Ketegangan AS-Iran menjadi salah satu faktor yang dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar. Eskalasi konflik berpotensi kembali mendorong harga minyak sekaligus memicu arus dana menuju aset safe haven.

“Penguatan rupiah pada Kamis lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” kata Amru.

Penguatan rupiah juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis, JISDOR berada di level Rp17.689 per dolar AS, menguat dari Rp17.770 pada perdagangan sebelumnya.

Meski menguat, posisi rupiah masih berada pada level yang relatif lemah terhadap dolar AS. Pasar karena itu masih akan mencermati sejumlah faktor dalam beberapa hari ke depan, terutama data ekonomi AS, arah kebijakan The Fed, harga minyak dan perkembangan geopolitik.

Penguatan rupiah kali ini menjadi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menghapus tekanan eksternal yang masih membayangi pasar valuta asing.

Redaksi/ SRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *