JAKARTA — Biaya produksi beras di Indonesia masih tertinggal jauh dari Vietnam. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengungkapkan, ongkos menghasilkan 1 kilogram beras di Indonesia mencapai sekitar Rp12.000, sementara Vietnam hanya sekitar Rp3.800.
Selisih tersebut membuat biaya produksi beras Indonesia lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Vietnam. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu persoalan serius yang harus segera dibenahi untuk meningkatkan daya saing pangan nasional.
Zulhas mengatakan tingginya ongkos produksi tidak terlepas dari rendahnya efisiensi di sektor pertanian, terutama karena penggunaan teknologi dan mekanisasi yang belum optimal.
Indonesia, kata dia, masih banyak mengandalkan pola pertanian konvensional yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Di sisi lain, produktivitas pertanian belum mampu mengejar negara-negara yang lebih maju dalam menerapkan teknologi.
“Vietnam untuk mendapatkan 1 kilogram beras hanya mengeluarkan biaya Rp3.800. Kita untuk 1 kilogram beras perlu biaya Rp12.000. Betapa kita kalah jauh, tertinggal,” ujar Zulhas.
Menurut Zulhas, salah satu kunci untuk menekan biaya produksi adalah mempercepat mekanisasi pertanian. Penggunaan mesin dinilai mampu menggantikan sebagian pekerjaan manual sekaligus memperluas kapasitas pengolahan lahan.
Ia mencontohkan, proses penanaman yang dilakukan secara manual membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Sebaliknya, penggunaan mesin memungkinkan pengolahan lahan dalam skala lebih besar dengan waktu yang relatif lebih singkat.
Selain mekanisasi, pemerintah juga perlu memperkuat pengembangan varietas unggul dan riset pertanian. Peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kualitas benih, teknologi budidaya, serta penguasaan ilmu pertanian.
Persoalan biaya produksi yang tinggi juga berkaitan dengan sejumlah faktor lain, seperti mahalnya tenaga kerja, sewa lahan, kepemilikan lahan yang relatif sempit, serta tingkat mekanisasi yang belum merata.
Karena itu, Zulhas menilai persoalan pangan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengejar peningkatan produksi. Indonesia juga harus mampu menghasilkan beras dengan biaya yang lebih efisien agar produk pertanian dalam negeri mampu bersaing.
“Jadi memang kita harus belajar. Big business-nya, teknologinya harus,” kata Zulhas.
Ia mendorong perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku usaha pertanian untuk ikut mempercepat inovasi dan penerapan teknologi. Penguasaan teknologi dinilai penting untuk memangkas ongkos produksi sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Jika kesenjangan biaya produksi tidak segera ditekan, Indonesia akan menghadapi tantangan semakin besar dalam menghadapi persaingan dengan negara produsen beras seperti Vietnam dan Thailand.
Modernisasi pertanian pun dinilai menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan, untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan daya saing beras Indonesia.
Redaksi/ SRN



