7 LAWAN 1? PDI-P PILIH JADI PENYEIMBANG, KOALISI PRABOWO RAMAI-RAMAI SOROT SIKAP BANTENG

Wednesday, 16 September 2026, 10:13 am

Suara Rakyat News  – Pilihan PDI Perjuangan untuk berada di luar pemerintahan Prabowo Subianto tampaknya terus mengusik dinamika politik nasional. Di tengah dominasi koalisi besar pendukung pemerintah, partai berlambang banteng itu justru menjadi sasaran kritik dari sejumlah partai koalisi, mulai dari PKB, Golkar, hingga PAN.

Situasi ini memunculkan kesan seolah terjadi pertarungan “7 lawan 1”, di mana PDI-P sebagai satu-satunya partai besar di luar pemerintahan terus disorot karena mengambil posisi sebagai penyeimbang kekuasaan.

🎯 Adi Prayitno: Yang Berhak Bertanya Sikap PDI-P Hanya Gerindra

Pengamat politik Adi Prayitno menilai kritik yang datang dari berbagai partai koalisi terhadap PDI-P terkesan berlebihan. Menurutnya, secara politik pihak yang paling relevan mempertanyakan sikap PDI-P adalah Gerindra sebagai pemenang Pilpres 2024.

✅ “Begitulah nasib kalah pilpres, digebuk dan ditinggal sendirian. Coba kalau PDI-P menang pilpres, mana berani ngeroyok,” ujar Adi.

Ia bahkan menyindir partai-partai lain yang ikut menyoroti posisi PDI-P dengan mempertanyakan urgensi mereka ikut terlibat dalam polemik tersebut.

🐂 PDI-P: Demokrasi Butuh Penyeimbang, Bukan Tukang Stempel

Ketua DPP PDI-P Deddy Sitorus menegaskan posisi partainya sudah final, yakni berada di luar pemerintahan untuk menjalankan fungsi kontrol dan penyeimbang.

Menurutnya, demokrasi membutuhkan ruang kritik agar tidak terjadi konsentrasi kekuasaan yang berlebihan.

✅“Kalau semua fraksi DPR hanya menjadi tukang stempel pemerintah, apa bedanya dengan masa Orde Baru?” kata Deddy.

PDI-P juga menepis berbagai tudingan yang mengaitkan partai tersebut dengan sejumlah aksi kritik terhadap pemerintah. Bagi mereka, perbedaan pandangan merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat.

Analisis: Ujian Demokrasi di Tengah Koalisi Gemuk

Ramainya sorotan terhadap posisi PDI-P justru memperlihatkan pentingnya keberadaan oposisi dalam sistem demokrasi. Dengan mayoritas kekuatan politik berada di belakang pemerintah, keberadaan partai yang memilih berada di luar kekuasaan menjadi salah satu mekanisme kontrol yang sah dalam negara demokrasi.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah perbedaan sikap politik akan dipandang sebagai ancaman, atau justru sebagai bagian dari keseimbangan demokrasi yang harus dijaga?

(Redaksi/Suara Rakyat News)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *