JAKARTA — Pengamat politik Ray Rangkuti menilai kondisi politik Indonesia saat ini menunjukkan kemiripan dengan praktik kekuasaan pada era Orde Baru. Menurut dia, gejala tersebut terlihat dari semakin kuatnya arogansi kekuasaan, praktik nepotisme, hingga melemahnya fungsi kritik lembaga legislatif.
Ray mengatakan kemunduran demokrasi tidak hanya tampak melalui tekanan terhadap kritik di ruang publik dan digital, tetapi juga dari cara lembaga negara menjalankan perannya.
“Gejalanya makin mirip Orde Baru. Kekuasaan makin arogan dan praktik nepotisme makin terasa,” ujar Ray.
Ia menilai praktik nepotisme kini tidak lagi hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi telah meluas hingga ke daerah. Kondisi itu, menurut dia, memperlihatkan lemahnya kontrol terhadap kekuasaan dan menurunnya kualitas demokrasi.
Sorotan paling tajam diarahkan Ray kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Ia menilai DPR saat ini semakin kehilangan fungsi pengawasan dan kritik terhadap pemerintah.
Ray kembali menghidupkan istilah “5D” yang populer pada masa Orde Baru untuk menggambarkan mentalitas anggota dewan. Istilah itu merujuk pada “datang, duduk, diam, dengar, dan duit.”
“Sekarang DPR lebih banyak menjadi juru bicara pemerintah daripada juru bicara rakyat,” kata Ray.
Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari sikap sejumlah anggota DPR yang lebih sering memberikan klarifikasi dan pembelaan terhadap pernyataan kontroversial Presiden dibanding menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah.
Ray menilai situasi itu menjadi alarm bagi demokrasi Indonesia. Ketika parlemen kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan, kata dia, fungsi representasi rakyat berpotensi melemah dan kontrol terhadap pemerintah semakin menurun.
Ray Rangkuti: DPR Kini Mirip Era Orde Baru, Datang, Duduk, Diam
Saturday, 13 June 2026, 18:58 pm



