Wacana memperpanjang usia pensiun anggota Polri menjadi 60 tahun memantik gelombang pro dan kontra.
Di tengah sulitnya regenerasi dan ketatnya jenjang karier di tubuh kepolisian, pernyataan mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno justru mengejutkan publik.
“Kalau masih produktif, usia 70 sampai 80 tahun pun tidak masalah,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung memicu perdebatan. Sebagian menilai pengalaman perwira senior memang masih dibutuhkan.
Namun kritik keras muncul karena kebijakan tersebut dianggap bisa membuat regenerasi di tubuh Polri berjalan lambat dan mempersempit peluang generasi muda naik jabatan.
Publik pun mulai bertanya:
Apakah perpanjangan usia pensiun benar demi kepentingan institusi, atau justru membuat lingkar kekuasaan makin sulit berganti?
Di lapangan, tugas polisi bukan hanya soal pengalaman, tetapi juga stamina, kecepatan, dan kemampuan menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
Karena itu, banyak pihak menilai reformasi Polri seharusnya membuka ruang bagi darah baru, bukan memperpanjang dominasi pejabat lama.
Perdebatan ini kini bukan lagi sekadar soal angka usia pensiun.
Isu tersebut berkembang menjadi pertanyaan besar tentang masa depan reformasi Polri: memberi ruang regenerasi atau mempertahankan status quo?
Usia Pensiun Polri Mau Ditambah, Publik: Regenerasi Mau Dibawa ke Mana?
Monday, 15 June 2026, 09:41 am



