Dapur Gizi atau Ladang Bisnis? Modus ‘Ternak Yayasan’ Terungkap di Program MBG

Tuesday, 19 May 2026, 04:43 am

JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk memperbaiki kualitas gizi anak sekolah mulai dihadapkan pada praktik yang menyimpang dari tujuan awal. Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan indikasi adanya pola “ternak yayasan” dalam pelaksanaan program tersebut.

Istilah itu merujuk pada praktik sejumlah pihak yang mendirikan lebih dari satu yayasan untuk mengelola beberapa dapur layanan MBG sekaligus. Dengan cara ini, satu kelompok dapat menguasai lebih dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)—unit yang seharusnya tersebar dan dikelola secara independen.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyebut pola ini sebagai bentuk akal-akalan untuk mengakali ketentuan. “Ternak yayasan,” kata dia, menggambarkan upaya sistematis memperbanyak entitas formal demi memperluas kendali operasional.

Sejak awal, pemerintah mensyaratkan mitra MBG berasal dari yayasan di bidang pendidikan, sosial, atau keagamaan. Skema ini dirancang untuk memastikan orientasi program tetap pada pelayanan publik, bukan keuntungan bisnis.

Namun, temuan di lapangan menunjukkan adanya celah dalam verifikasi dan pengawasan. Dengan mendirikan beberapa yayasan yang secara administratif terpisah, pelaku dapat tetap memenuhi syarat formal—meski secara substansi berada dalam kendali pihak yang sama.

Kondisi ini berpotensi menggeser arah program. Alih-alih fokus pada pemenuhan gizi, pengelolaan dapur MBG dikhawatirkan berubah menjadi ladang usaha terselubung.

BGN menyatakan akan melakukan evaluasi berkala terhadap seluruh mitra. Kontrak kerja sama yang hanya berlaku satu tahun disebut menjadi instrumen kontrol—dengan perpanjangan bergantung pada hasil penilaian.

Meski demikian, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: sejauh mana mekanisme pengawasan mampu menelusuri relasi di balik yayasan-yayasan tersebut? Tanpa penguatan sistem verifikasi, praktik serupa berpotensi terus berulang—dengan risiko menggerus tujuan utama program.

Program MBG, yang menyasar kebutuhan dasar anak sekolah, kini berada di persimpangan antara misi sosial dan potensi komersialisasi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *