Rupiah Naik Tipis ke Rp17.640, Cadangan Devisa Jadi Bantalan di Tengah Tekanan Global

Wednesday, 16 September 2026, 03:46 am

JAKARTA — Rupiah mengakhiri perdagangan Senin (7/9/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi sentimen positif, tetapi ruang penguatan rupiah masih sempit di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan pasar global.

Mengutip ANTARA, rupiah ditutup di level Rp17.640 per dolar AS, menguat dua poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.642 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar. Angka itu naik US$1,2 miliar dari posisi akhir Juli yang sebesar US$145,3 miliar.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan cadangan devisa menjadi salah satu penopang pergerakan rupiah.

“Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus,” ujar Lukman.

Menurut BI, peningkatan cadangan devisa terutama berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Kenaikan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI untuk merespons ketidakpastian pasar keuangan global.

Dengan posisi US$146,5 miliar, cadangan devisa Indonesia setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Namun, membaiknya bantalan eksternal belum serta-merta membuat rupiah mampu menguat lebih agresif.

Lukman mengatakan investor masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah sekaligus menunggu rilis sejumlah indikator ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat volatilitas eksternal masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan rupiah dalam jangka pendek.

“Walau momentum penguatan rupiah masih kuat, volatilitas eksternal diperkirakan masih akan mendominasi dan berpotensi menahan penguatan lanjutan rupiah,” kata Lukman.

Tekanan juga datang dari pasar komoditas, terutama minyak mentah. Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi dan pada saat yang sama memperbesar tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup tinggi akibat kenaikan harga minyak dunia serta potensi keluarnya modal asing ketika pasar keuangan global kembali bergejolak.

“Dari global, tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat harga minyak yang naik di atas US$95,” ujar Rully.

Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah pada Senin menunjukkan bahwa penguatan cadangan devisa memberikan bantalan, tetapi belum cukup untuk menepis tekanan global. Geopolitik Timur Tengah, harga minyak, arah dolar AS, serta arus modal asing masih akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah rupiah mampu melanjutkan penguatannya.

Dengan kata lain, rupiah memang berhasil menutup perdagangan di zona hijau, tetapi penguatannya masih terlalu tipis untuk disebut sebagai sinyal pembalikan tren. Pasar masih menunggu apakah sentimen positif dari dalam negeri mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal yang belum mereda.

Redaksi/ SRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *