KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Jadi Rais Aam PBNU Periode 2026-2031

Wednesday, 16 September 2026, 01:06 am

JOMBANG — KH Miftachul Akhyar kembali mendapat amanah memimpin Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Forum Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) menetapkannya sebagai Rais Aam PBNU untuk masa khidmah 2026–2031 dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 30 Agustus 2026.

Keputusan sembilan kiai anggota AHWA itu memperpanjang masa kepemimpinan Kiai Miftach di posisi tertinggi Syuriyah PBNU. Ia sebelumnya terpilih sebagai Rais Aam definitif untuk periode 2021–2026 melalui Muktamar ke-34 NU di Lampung.

Jauh sebelum itu, Kiai Miftach telah berada di posisi tersebut. Pada 2018, ia dipercaya sebagai Pejabat Rais Aam untuk melanjutkan amanah KH Ma’ruf Amin yang ketika itu memasuki panggung pemerintahan nasional sebagai Wakil Presiden.

Dengan keputusan Muktamar ke-35, perjalanan itu berlanjut hingga 2031.

Kiai Miftach memiliki rekam jejak panjang di lingkungan NU. Pengabdiannya tidak langsung dimulai dari struktur pusat, melainkan melalui jenjang organisasi di daerah. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Surabaya dan kemudian memimpin Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode.

Pengalaman di organisasi keagamaan juga membawanya ke luar struktur NU. Ia dipercaya menduduki posisi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Berangkat dari Tradisi Pesantren

Lahir di Surabaya pada 1953, Kiai Miftachul Akhyar tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Pendidikan agamanya ditempuh melalui tradisi pesantren yang mengharuskannya berpindah dari satu pusat keilmuan ke pusat lainnya. Tambakberas, Rejoso, Sidogiri, dan Lasem menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Ia juga memperdalam keilmuan melalui Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Tradisi keilmuan itu kemudian diteruskan melalui aktivitas pendidikan dan pengasuhan pesantren.

Di Surabaya, Kiai Miftach mengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah.

Perjalanan dari pesantren hingga pucuk Syuriyah PBNU membuat Kiai Miftach menjadi salah satu figur penting dalam kesinambungan kepemimpinan NU. Ia melewati jenjang pengabdian organisasi selama puluhan tahun sebelum memperoleh mandat kembali untuk memimpin lima tahun ke depan.

Namun, mandat baru tersebut datang ketika NU menghadapi lanskap yang semakin kompleks. Organisasi dituntut mempertahankan tradisi keulamaan sekaligus merespons perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan kebangsaan, dan dinamika politik yang terus bergerak.

Dalam konteks itu, keputusan AHWA mempertahankan Kiai Miftach menunjukkan bahwa pengalaman dan kesinambungan kepemimpinan ulama masih menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah Syuriyah NU.

Muktamar ke-35 tidak hanya menetapkan siapa yang akan memimpin NU hingga 2031. Forum tersebut juga menjadi penanda bagaimana organisasi menjaga kesinambungan tradisi keulamaan di tengah perubahan zaman.

Redaksi/ SRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *