48 Ribu Jadi 17 Ribu: Skandal Bibit Kelapa Terkuak Saat Sidak Mentan di Sulut

Wednesday, 10 June 2026, 01:06 am

Manado — Apa yang tersisa ketika angka tak lagi cocok dengan fakta di lapangan?


Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menemukan selisih mencolok dalam program pembibitan kelapa di Sulawesi Utara. Dari laporan resmi sebanyak 48 ribu bibit, realisasi di lokasi hanya sekitar 17 ribu. Selisih 31 ribu bibit—angka yang terlalu besar untuk sekadar disebut kesalahan administrasi.


Temuan itu muncul dalam inspeksi mendadak di Kelurahan Bengkol, Kota Manado, Jumat pagi, 1 Mei 2026. Sidak yang awalnya dimaksudkan sebagai pengecekan rutin berubah menjadi pembongkaran masalah mendasar: data yang tak sinkron, kualitas yang diragukan, dan pengawasan yang tampak lumpuh.


“Ini harus diperiksa,” kata Amran. Ia secara terbuka meminta aparat kepolisian dan kejaksaan turun tangan, mengindikasikan persoalan ini tak lagi berhenti pada level teknis.


Tak hanya jumlah, kualitas bibit pun dipersoalkan. Bibit berukuran kecil ditemukan di lokasi—tidak memenuhi standar tanam. Lebih jauh, area pembibitan tampak terbengkalai. Rumput liar tumbuh setinggi bibit, mencerminkan minimnya perawatan dan lemahnya kontrol lapangan.


Ironisnya, peringatan disebut sudah pernah diberikan oleh Petugas Penyuluh Lapangan. Namun pelanggaran tetap terjadi. Di titik ini, pertanyaan bergeser: apakah ini sekadar kelalaian, atau ada pembiaran sistematis?


Program pembibitan ini bukan proyek kecil. Pemerintah menggelontorkan anggaran hingga Rp10 triliun untuk mendukung target penanaman nasional seluas sekitar 1 juta hektare. Dengan nilai sebesar itu, setiap selisih angka menjadi krusial—dan setiap kelalaian bisa berujung kerugian negara.


Amran juga menyinggung lemahnya keterlibatan unit internal, termasuk balai riset yang disebut tidak turun ke lokasi. Ia memastikan akan ada evaluasi dan membuka kemungkinan sanksi tegas, termasuk pemecatan bagi pihak yang terbukti menyimpang.


Kasus ini memperlihatkan celah lama dalam proyek-proyek berbasis anggaran besar: pengawasan yang longgar, data yang mudah dimanipulasi, dan tanggung jawab yang kerap kabur.


Sidak telah membuka pintu. Pertanyaannya kini: apakah penelusuran akan berhenti di permukaan, atau benar-benar menembus hingga ke akar persoalan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *