SAAT UANG KOTOR DIBAWA KE ALTAR TUHAN

Monday, 15 June 2026, 09:24 am

Tidak semua persembahan harum di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak silau pada angka, nominal, atau amplop yang tebal.
Tuhan melihat hati.
Tuhan juga melihat dari mana uang itu berasal.

Ironisnya, ada orang hidup dari kebohongan, korupsi, tipu daya, dan merampas hak sesama, tetapi tetap merasa tenang karena rajin memberi persembahan dan persepuluhan.

Seolah-olah altar Tuhan bisa dipakai mencuci dosa.
Seakan rumah ibadah dapat menenangkan hati yang belum bertobat.

Padahal Tuhan tidak pernah bisa disuap dengan persembahan.

Tuhan tidak membutuhkan uang hasil ketidakadilan untuk membuktikan kesetiaan manusia.
Yang Tuhan kehendaki bukan sekadar tangan yang memberi, tetapi hidup yang jujur dan bertobat.

Percuma terlihat saleh di depan mimbar, jika kehidupan sehari-hari dibangun di atas kecurangan dan penderitaan orang lain.

Percuma suara doa terdengar keras, jika hati masih mencintai ketidakbenaran.

Karena bagi Tuhan, kejujuran lebih berharga daripada persembahan besar yang lahir dari jalan yang gelap.

Ibadah sejati bukan soal seberapa banyak yang masuk ke kantong persembahan,
melainkan apakah hidup kita sungguh bersih di hadapan Tuhan.

Sebab Tuhan tidak mencari uang manusia.
Tuhan mencari hati yang benar.

“Korban orang fasik adalah kekejian bagi Tuhan…” — Kitab Amsal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *