Negara yang Dikuasai Penjahat Berdasi

Friday, 20 March 2026, 08:22 am

Kata-kata Nelson Mandela adalah tamparan telanjang bagi kekuasaan yang pongah. Ia membongkar kebohongan paling mapan dalam politik modern: bahwa kejahatan negara selalu datang dari kekerasan terbuka. Faktanya, kejahatan paling mematikan justru lahir dari meja rapat, lembar kebijakan, dan tanda tangan pejabat yang mengorbankan rakyat demi kepentingan segelintir elite.

Penjahat yang dimaksud Mandela bukan perampok jalanan, melainkan penguasa berdasi—mereka yang mengendalikan anggaran, hukum, dan wacana publik. Negara dijadikan proyek pribadi, hukum dipelintir menjadi alat perlindungan diri, dan jargon “pembangunan” dipakai untuk menutup perampasan hak hidup rakyat. Inilah kejahatan yang rapi, legal secara administratif, namun biadab secara moral.
Sejarah tidak pernah berdusta: bangsa tidak runtuh karena miskin, melainkan karena dikhianati dari dalam.

Ketika kekuasaan berubah menjadi alat akumulasi kekayaan, dan jabatan menjadi lisensi kebal hukum, maka yang sedang berlangsung bukan salah urus, melainkan perampokan negara yang dilembagakan.
Dalam kondisi seperti ini, diam bukan kebajikan—diam adalah kejahatan kedua. Diam berarti memberi ruang bagi penjahat berdasi untuk terus berkuasa tanpa perlawanan.

Mandela mengingatkan kita: kekuasaan tanpa moral akan selalu berakhir pada kehancuran. Dan kehancuran itu tidak datang tiba-tiba—ia dibangun perlahan, dengan tepuk tangan, pembiaran, dan ketakutan rakyatnya sendiri.

(Narasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *