PATI — Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga Jumat, 11 September 2026, jumlah warga yang mengalami gejala mencapai 424 orang.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati per pukul 11.00 WIB mencatat, dari 424 orang yang bergejala, 58 orang harus menjalani rawat inap, sementara 322 lainnya menjalani rawat jalan di sejumlah fasilitas kesehatan. Korban tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga terdapat penerima manfaat usia balita.
Besarnya jumlah korban membuat Pemerintah Kabupaten Pati mempertahankan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Penanganan medis terhadap para korban terus dilakukan, sementara pemerintah bersama pihak terkait masih menelusuri penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasus ini berkaitan dengan distribusi makanan dari SPPG Gembong 1. Merespons jumlah korban yang telah melampaui 100 orang, Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan seluruh operasional SPPG tersebut.
Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono, bahkan menyatakan sanksi permanen dapat dijatuhkan apabila hasil evaluasi menemukan fasilitas maupun dapur tidak memenuhi standar yang ditetapkan.
Sementara itu, penyebab gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat masih dalam penyelidikan. Uji sampel makanan dan pemeriksaan laboratorium dilakukan, sementara kepolisian juga mendalami kejadian tersebut, termasuk menelusuri pengelolaan SPPG yang terkait.
Pemkab Pati juga berencana melakukan audit terhadap sekitar 172 dapur SPPG di wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kelayakan fasilitas serta kemampuan dapur dalam memenuhi standar produksi makanan MBG.
Kasus Pati kembali menjadi sorotan serius dalam pelaksanaan program MBG. Ketika jumlah penerima manfaat yang mengalami gejala telah mencapai 424 orang, persoalan keamanan pangan tidak lagi sekadar menjadi evaluasi internal, tetapi membutuhkan pengawasan ketat, transparansi hasil pemeriksaan, serta pengungkapan penyebab secara terang.
Pemerintah kini dituntut memastikan dua hal sekaligus: seluruh korban mendapatkan penanganan hingga pulih dan penyebab kejadian terungkap secara tuntas agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Redaksi/ SRN



