Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Kebetulan Geologi atau Ada Pemicu?

Wednesday, 16 September 2026, 03:47 am

JAKARTA — Enam gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi pada hari yang sama, 31 Agustus 2026. Aktivitas vulkanik yang terjadi di sejumlah wilayah berbeda itu memicu kekhawatiran warga sekaligus pertanyaan: apakah keenam gunung tersebut saling berkaitan, atau hanya kebetulan geologi?

Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara tercatat mengalami erupsi pada tanggal tersebut.

Rentetan aktivitas itu terjadi di tengah tingginya aktivitas vulkanik Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa tidak ada bukti keenam erupsi tersebut saling memicu.

PVMBG menyebut aktivitas masing-masing gunung merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara independen.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa kesamaan waktu erupsi tidak serta-merta menunjukkan adanya satu sumber atau mekanisme geologi yang menghubungkan keenam gunung tersebut.

Menurut Rita, Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif. Dengan jumlah sebanyak itu, munculnya aktivitas erupsi pada beberapa gunung dalam waktu yang berdekatan merupakan fenomena yang secara geologis dapat terjadi.

“Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya. Proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya juga berbeda-beda,” kata Rita di Kompleks Badan Geologi, Bandung.

Ia menegaskan, hasil pemantauan PVMBG tidak menunjukkan adanya satu proses geologi yang menjadi pemicu seluruh erupsi pada 31 Agustus 2026.

“Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus,” ujarnya.

Gempa Tak Otomatis Picu Erupsi

Rita juga meluruskan anggapan yang kerap muncul setiap kali gunung api mengalami erupsi, yakni mengaitkannya secara langsung dengan gempa bumi.

Menurut dia, gempa tektonik tidak otomatis menyebabkan gunung api meletus. Hubungan antara aktivitas tektonik dan erupsi harus dibuktikan melalui rangkaian data pemantauan gunung api.

Indikator yang diamati antara lain perubahan pola kegempaan di dalam tubuh gunung, deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung, perubahan suhu, serta peningkatan maupun perubahan komposisi gas vulkanik.

Karena itu, keberadaan gempa di suatu wilayah saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa gempa tersebut menjadi penyebab erupsi.

Hal yang sama berlaku terhadap enam gunung yang mengalami erupsi pada hari yang sama. Kesamaan waktu merupakan fakta, tetapi bukan bukti adanya satu sistem vulkanik yang saling terhubung.

Aktivitas Gunung Tetap Harus Diwaspadai

Meski tidak saling memicu, aktivitas keenam gunung tersebut tetap membutuhkan perhatian. Setiap gunung memiliki karakteristik, tingkat aktivitas, serta potensi bahaya yang berbeda sehingga langkah mitigasinya tidak bisa disamaratakan.

Gunung Sinabung, misalnya, mengalami peningkatan aktivitas hingga statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Sementara Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga menjadi perhatian karena aktivitas vulkaniknya masih berfluktuasi. Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta tidak mendekati zona yang telah ditetapkan serta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi PVMBG.

Bagi masyarakat, yang terpenting bukan mencari hubungan di antara keenam erupsi tersebut, melainkan memahami potensi bahaya di wilayah masing-masing.

PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang mengaitkan rentetan erupsi dengan prediksi gempa besar, tsunami, atau bencana global tanpa dasar ilmiah.

Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak lengah. Informasi mengenai status gunung api, radius bahaya, potensi erupsi, maupun rekomendasi keselamatan harus merujuk pada kanal resmi Badan Geologi dan PVMBG.

Enam gunung api memang tercatat erupsi pada hari yang sama. Namun, kesamaan waktu tidak berarti kesamaan penyebab. Masing-masing gunung memiliki “dapur” magma, proses, dan dinamika vulkaniknya sendiri.

Redaksi/ SRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *