Trump Klaim Selat Hormuz, Iran Balas Keras: Milik Kami Selamanya

Wednesday, 16 September 2026, 03:47 am

WASHINGTON — Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan klaim kontroversial terkait Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Dalam sebuah acara di Carolina Selatan, Jumat (21/8/2026), Trump menyatakan pandangannya bahwa Selat Hormuz merupakan wilayah Amerika Serikat. Ia juga menilai Iran belum siap mencapai kesepakatan yang tepat dengan Washington.

Tak berhenti di sana, Trump kembali memberi sinyal bahwa opsi militer masih terbuka. Amerika Serikat, kata dia, terus memantau perkembangan situasi dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan apabila jalur diplomasi mengalami kebuntuan.

Pernyataan tersebut langsung memicu respons keras dari Teheran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan bagian dari kepentingan dan kendali Iran. Ia menolak klaim Washington dan menyatakan posisi Teheran tidak berubah.

“Selat Hormuz adalah, telah, dan akan tetap menjadi milik Iran,” tegas Gharibabadi.

Pernyataan Trump juga bukan kali pertama disampaikan. Pada 14 Agustus lalu, ia telah mengumumkan rencana untuk mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai “wilayah AS”, langkah yang langsung mendapat penolakan dari Iran.

Selat Hormuz memiliki arti strategis yang sangat besar bagi dunia. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut menjadi salah satu rute utama pengiriman energi global, dengan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melintas melalui kawasan itu.

Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan dan kelancaran pelayaran di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak luas, mulai dari gangguan pasokan energi hingga gejolak harga minyak dunia.

Perseteruan terbaru Washington dan Teheran pun menempatkan Selat Hormuz kembali di pusat ketegangan geopolitik. Jika klaim teritorial, tekanan diplomatik, dan ancaman penggunaan kekuatan terus berlanjut, kawasan tersebut berpotensi menjadi titik api baru yang mengguncang stabilitas Timur Tengah sekaligus pasar energi global.

Redaksi/ SRN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *