Dunia Mbanua Daikit Bertahan di Ujung Zaman: Desa Dimembe, Satu-Satunya Penjaga Ritual Bersih Kampung di Minahasa Raya

Sunday, 22 March 2026, 08:55 am

Di saat tradisi leluhur Minahasa perlahan menghilang, Desa Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, tetap setia merawat ritual sakral Dumia Mbanua Daikit—warisan budaya yang kini hanya hidup di satu desa.

Ritual Dunia Mbanua Daikit di Desa Dimembe (Jumat, 23 Jan 2026)

Dimembe, Minahasa Utara — Di tengah arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai tradisi, Desa Dimembe, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, berdiri sebagai penjaga terakhir ritual adat Dumia Mbanua Daikit atau bersih kampung. Hingga kini, Dimembe tercatat sebagai satu-satunya desa di Minahasa Raya yang secara konsisten melestarikan ritual leluhur tersebut.

Ritual Dumia Mbanua Daikit dilaksanakan setiap memasuki awal tahun baru dan menjadi penanda spiritual bagi masyarakat adat Minahasa. Prosesi ini dimaknai sebagai pembersihan kampung secara lahir dan batin, sekaligus doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari bencana, wabah penyakit, konflik sosial, serta berbagai marabahaya.

Pelaksanaan ritual diikuti oleh masyarakat Desa Dimembe, Desa Laikit, dan wilayah sekitarnya, melibatkan seluruh unsur masyarakat—mulai dari kalangan pemuda, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama dan masyarakat pemerhati adat yang ada di Minahasa Raya.

Kehadiran lintas generasi ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak sekadar dikenang, tetapi benar-benar dijalani sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hukum Tua (Kepala Desa) Dimembe, Marny Pangalila, menegaskan bahwa ritual bersih kampung bukan sekadar agenda budaya, melainkan fondasi kebersamaan masyarakat.

“Kami memulai tahun bukan dengan pesta, tetapi dengan doa dan adat. Dumia Mbanua Daikit adalah cara orang Dimembe menjaga kampung, menjaga kebersamaan, dan menjaga jati diri Minahasa,” ujar Marny Pangalila.
Ia menambahkan, pelibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi leluhur.

“Anak muda kami tidak berdiri di pinggir sebagai penonton. Mereka ada di tengah ritual, karena di situlah nilai adat diwariskan,” lanjutnya.
Sementara itu, Tokoh Adat Desa Dimembe, Opa Pontoh, menekankan bahwa Dumia Mbanua Daikit merupakan ritual sakral, bukan sekadar seremoni.

“Ini bukan acara biasa dan bukan tontonan. Ini doa adat untuk membersihkan kampung dan menata kembali hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Selama ritual ini dijalankan, kampung tidak kehilangan arah,” tegas Opa Pontoh.
Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan adat.

“Zaman boleh berubah, tetapi adat tidak boleh ditinggalkan. Kalau adat hilang, orang Minahasa kehilangan pegangan,” katanya.

Pelaksanaan ritual ini juga dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, yang diwakili oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Fredrik Tulengkey, Wakapolres Minut Kompol Thely Mawidingan, Camat Dimembe, Danramil Dimembe, serta Anggota DPRD Minahasa Utara Ronal Kaawoan. Kehadiran unsur pemerintah, aparat keamanan, dan wakil rakyat tersebut menegaskan bahwa Dumia Mbanua Daikit memiliki nilai strategis sebagai warisan budaya daerah.

Di tengah dunia yang terus bergerak maju, Desa Dimembe memilih setia pada akar budayanya. Dumia Mbanua Daikit tidak dipentaskan sebagai tontonan wisata, tetapi dijalankan sebagai ritual hidup yang mengikat masyarakat dengan nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan kebersamaan sosial.

Keberlangsungan ritual ini menjadi pengingat bahwa budaya Minahasa masih memiliki penjaga, meski kini hanya tersisa di satu desa. Desa Dimembe bukan sekadar mempertahankan tradisi—desa ini sedang menjaga marwah dan identitas Minahasa Raya agar tidak hilang ditelan zaman.

**Noving

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *