Dumia Mbanua Daikit di Dimembe: Saat Adat, Rakyat dan Negara Berdiri Satu

Friday, 20 March 2026, 08:30 am

Ritual bersih kampung warisan leluhur Minahasa ini dihadiri masyarakat lintas desa, tokoh adat, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, menegaskan bahwa adat masih menjadi fondasi harmoni sosial di tengah perubahan zaman.

DIMEMBE, MINAHASA UTARA – Pagi itu, Jumat, 23 Januari 2026 Desa Dimembe tidak sekadar ramai. Ia khidmat. Langkah warga menyatu dengan doa adat, menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk zaman modern. Ritual adat Dumia Mbanua Daikit, tradisi bersih kampung warisan leluhur Minahasa, kembali digelar sebagai penanda bahwa adat masih hidup, dijaga, dan dihormati.

Ritual sakral ini dihadiri masyarakat Desa Dimembe dan desa-desa sekitarnya, tokoh adat, serta pemerhati adat Minahasa.

Kehadiran warga lintas generasi menegaskan bahwa Dumia Mbanua Daikit bukan sekadar seremoni, melainkan ruang perjumpaan nilai—antara manusia, alam, dan Sang Pencipta (Opo Empung).

Ritual adat dipimpin Leluhur, Didukung Pemerintah

Prosesi adat dipimpin oleh tokoh adat Opa Pontoh, yang dengan penuh keteguhan menjaga tata cara ritual sesuai warisan leluhur. Doa-doa adat dan simbol penyucian kampung dilantunkan sebagai permohonan keselamatan, kesejahteraan, serta perlindungan bagi seluruh masyarakat.

Pemerintah Desa Dimembe di bawah kepemimpinan Hukum Tua Ibu Marny Pangalila turut memberi dukungan penuh. Bagi pemerintah desa, ritual adat ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi pilar penting dalam menjaga persatuan dan identitas masyarakat.

Negara Hadir di Ruang Adat
Pelaksanaan Dumia Mbanua Daikit kali ini juga mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Hadir mewakili pemerintah kabupaten, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Minut, Fredrik Tulengkey.

Selain itu, ritual ini turut dihadiri Anggota DPRD Minahasa Utara Ronal Kaawoan, Camat Dimembe, Danramil Dimembe, serta Wakapolres Minahasa Utara Kompol Thely Mawidingan, bersama jajaran.

Kehadiran unsur pemerintah dan keamanan tersebut menjadi pesan kuat bahwa adat, pemerintahan, dan negara dapat berjalan seiring, saling menghormati peran masing-masing demi menjaga ketertiban dan keharmonisan sosial.

Bersih Kampung, Bersih Nilai Hidup

Dalam pandangan adat Minahasa, Dumia Mbanua Daikit tidak berhenti pada pembersihan lingkungan. Ia adalah proses pembersihan nilai hidup—mengajak masyarakat menata kembali sikap, perilaku, dan relasi sosial.

Salah satu bagian penting dalam ritual ini adalah daikit, pantangan adat yang harus dipatuhi warga dalam jangka waktu tertentu. Pantangan tersebut menjadi simbol disiplin sosial dan penghormatan terhadap kesepakatan bersama, yang diyakini menjaga keseimbangan kampung.

Ritual adat Dumia Umbanua Daikit di Desa Dimembe

Tokoh adat menegaskan bahwa ketaatan pada budaya bukan bentuk pembatasan, melainkan pendidikan moral agar masyarakat hidup tertib, saling menghormati, dan bertanggung jawab terhadap ruang hidup bersama.

Adat sebagai Penjaga Zaman
Di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial, Dumia Mbanua Daikit di Desa Dimembe berdiri sebagai benteng budaya.

Ritual ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar tradisi.

Bagi masyarakat Dimembe, selama adat masih dijalani dengan kesadaran dan penghormatan, kampung akan tetap terjaga. Dan selama kampung terjaga, kehidupan akan berjalan seimbang.

Dumia Mbanua Daikit bukan hanya milik satu desa. Ia adalah denyut budaya Minahasa—tenang, bermartabat, dan menyatukan.

**Noving

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *