Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat. Posisi itu disebut sebagai titik terlemah rupiah sepanjang sejarah perdagangan valuta asing domestik.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan memanasnya situasi geopolitik internasional, terutama konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu perpindahan dana investor ke aset yang dianggap aman, seperti dolar Amerika Serikat, sehingga mata uang negara berkembang ikut mengalami pelemahan.
Di dalam negeri, pasar juga menyoroti kondisi fiskal pemerintah dan peningkatan kebutuhan pembiayaan negara pada 2026. Sejumlah analis menilai sentimen domestik turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Selain faktor fiskal, lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan distribusi energi di jalur strategis Selat Hormuz dinilai memperbesar tekanan terhadap rupiah. Indonesia sebagai negara pengimpor energi menghadapi risiko kenaikan biaya impor yang dapat memicu tekanan inflasi.
Arus modal asing yang keluar dari pasar domestik disebut mempercepat pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan likuiditas serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional juga dinilai menjadi faktor yang memperburuk kondisi pasar.
Bank Indonesia menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan penguatan kebijakan moneter. Otoritas moneter juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan pasar.
Meski demikian, sejumlah pengamat memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda. Pelemahan nilai tukar dikhawatirkan berdampak pada kenaikan harga barang impor, inflasi, dan penurunan daya beli masyarakat.
Rupiah Jebol Rp17.614 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah — Pasar Mulai Panik?
Tuesday, 19 May 2026, 04:43 am



