JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto melontarkan sindiran keras kepada sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar dan pengamat. Prabowo menyoroti kritik yang menurutnya telah bergeser menjadi tudingan atau fitnah terhadap dirinya dan pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).
Dengan nada tegas, Prabowo menyindir pihak yang merasa memiliki kepakaran tetapi justru menggunakan kecerdasannya tanpa dibarengi kejujuran.
«“Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.”»
Prabowo kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya kejujuran intelektual. Menurutnya, kepakaran dan kecerdasan seharusnya digunakan untuk menyampaikan pandangan secara jujur dan bertanggung jawab kepada publik.
Ia bahkan menyebut adanya sejumlah pakar yang menurut penilaiannya telah melontarkan fitnah.
“Ada beberapa pakar, saking pakarnya dia melontarkan fitnah,” ujar Prabowo.
Meski mengaku mengetahui adanya tudingan tersebut, Prabowo mengatakan memilih tidak memperpanjang persoalan. Ia menyebut hanya mencatat pernyataan-pernyataan yang disampaikan kepadanya.
“Tapi sudahlah, kita bangsa besar, kuat. Saya pun mencatat saja. Kalau dia sadar saya maafkan,” katanya.
Prabowo: Kepakaran Harus Dibarengi Kejujuran
Prabowo kemudian memberikan penekanan khusus kepada kalangan cendekiawan. Menurutnya, semakin tinggi pengetahuan dan kepakaran seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya ketika menyampaikan pendapat di ruang publik.
“Kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual, intellectual honesty,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung pihak yang menurutnya memiliki kepakaran tetapi justru mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.
“Apalagi kalian mengabdi kepada kepentingan bangsa lain,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo ketika berbicara mengenai nilai perjuangan, kesetiaan, serta kepentingan bangsa dan negara. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa kesetiaan yang utama adalah kepada bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.
Kritik Boleh, Tetapi Harus Jujur
Prabowo tidak menyebut secara terbuka siapa saja pakar yang menjadi sasaran pernyataannya maupun tudingan spesifik yang ia kategorikan sebagai fitnah. Karena itu, identitas pihak yang dimaksud tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pidato tersebut.
Namun, pesan yang disampaikan Prabowo cukup jelas: kritik terhadap pemerintah menurutnya harus tetap dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab intelektual, dan kepentingan nasional.
Di tengah perdebatan publik mengenai berbagai kebijakan pemerintah, Prabowo menegaskan bahwa dirinya memilih tetap fokus pada agenda yang disebutnya sebagai perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Ia kembali menegaskan cita-citanya agar Indonesia menjadi negara yang terhormat, rakyat hidup sejahtera, tidak ada kelaparan, serta anak-anak Indonesia mendapatkan gizi dan pendidikan yang layak.
Bagi Prabowo, kepakaran bukan sekadar soal kecerdasan. Di balik gelar, pengetahuan, dan posisi sebagai intelektual, ia menekankan satu hal yang dianggapnya mendasar: kejujuran dalam menggunakan ilmu dan menyampaikan kebenaran kepada publik.
Redaksi/ SRN



