Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Ibnu Basuki Widodo membongkar pola pencucian uang koruptor yang disebut semakin licin dan sulit dilacak. Dalam praktiknya, uang hasil korupsi diduga tidak hanya disebar ke keluarga atau aset bisnis, tetapi juga mengalir ke perempuan-perempuan yang dianggap aman dari radar aparat.
Pernyataan itu disampaikan Ibnu dalam sosialisasi antikorupsi di Pengadilan Negeri Purwokerto. Ia menggambarkan bagaimana koruptor kerap panik menyembunyikan uang haram setelah rekening keluarga, tabungan, hingga aset pribadi mulai rawan terlacak PPATK.
“Kalau ditaruh tabungan lagi takut sama PPATK,” kata Ibnu.
Menurut dia, ketika uang sudah dibagikan ke istri, anak, keluarga, hingga kegiatan amal, sebagian pelaku mulai mencari “tempat aman” baru untuk menyamarkan aliran dana.
Pernyataan soal perempuan “bening-bening” itu langsung memantik perhatian publik karena dinilai membuka sisi gelap gaya hidup koruptor yang selama ini jarang dibicarakan terang-terangan oleh pejabat penegak hukum.
Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa praktik korupsi tidak berhenti pada pencurian uang negara, tetapi berkembang menjadi jaringan relasi, gaya hidup mewah, hingga pencucian uang yang memanfaatkan kedekatan personal.
Di tengah maraknya kasus korupsi bernilai fantastis, publik kini mempertanyakan seberapa besar uang negara yang sebenarnya sudah mengalir ke lingkaran-lingkaran tersembunyi di luar jalur resmi perbankan dan keluarga inti koruptor.
KPK Singgung Aliran Duit Korupsi ke Perempuan “Bening-Bening”, Modus Baru Cuci Uang Terbongkar
Monday, 15 June 2026, 09:41 am



