Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi di panggung politik global setelah menyatakan bahwa dirinya perlu memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Dalam wawancara yang dilaporkan oleh Reuters dan Axios, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bisa hanya menjadi penonton dalam proses suksesi kepemimpinan di Iran. Menurutnya, perubahan kepemimpinan di negara tersebut akan sangat memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump juga secara terbuka menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, untuk menggantikan posisi ayahnya. Ia menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “tidak dapat diterima” dan “tidak memiliki bobot” untuk memimpin Iran.
“Kita membutuhkan seseorang yang dapat membawa stabilitas dan perdamaian,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan Iran setelah wafatnya Ali Khamenei dalam konflik terbaru di kawasan tersebut.
Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Assembly of Experts, sebuah lembaga ulama yang memiliki kewenangan penuh untuk menunjuk pemimpin tertinggi negara tersebut.
Pernyataan Trump pun langsung memicu perdebatan internasional. Sejumlah pengamat menilai sikap tersebut berpotensi memperkeruh hubungan antara Washington dan Teheran serta memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.
Situasi ini membuat dunia kini menaruh perhatian besar pada proses suksesi kepemimpinan Iran, mengingat posisi pemimpin tertinggi memiliki pengaruh sangat besar terhadap arah politik, keamanan, dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
(**)
Trump Klaim Harus Terlibat Tentukan Pemimpin Iran, Tolak Putra Khamenei sebagai Penerus
Friday, 20 March 2026, 08:25 am



