Oleh: Supriyanto Martosuwito
Istilah “sapi glonggongan” sudah lama dikenal dalam praktik curang di pasar daging. Sebelum disembelih, sapi dipaksa minum air sebanyak-banyaknya agar bobotnya meningkat. Sekilas terlihat lebih berat dan menguntungkan penjual, tetapi kualitas dagingnya buruk, cepat rusak, dan jelas merugikan konsumen.
Belakangan, metafora ini mulai digunakan dalam percakapan publik untuk menggambarkan fenomena lain: munculnya tokoh mahasiswa yang tiba-tiba viral karena satu atau dua pernyataan keras terhadap pemerintah.
Fenomena ini kembali mencuat setelah Ketua BEM UGM 2026, Tiyo Ardianto, menjadi sorotan publik karena menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “Presiden bodoh”. Pernyataan tersebut disampaikan saat mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menyinggung kasus bunuh diri seorang siswa SD yang dikaitkan dengan faktor kemiskinan.
Pernyataan keras itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu perdebatan luas. Dalam waktu singkat, nama Tiyo Ardianto menjadi viral dan sering muncul dalam berbagai diskusi publik.
Namun di balik sorotan tersebut, muncul pula berbagai isu lain. Namanya kemudian dikaitkan dengan dugaan keterlibatan dalam penggelapan Dana Bantuan Pendidikan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Selain itu, beredar pula kabar bahwa ia menerima sejumlah transfer dana dari berbagai sumber, meski informasi ini masih menjadi perbincangan di ruang publik.
Situasi ini semakin memanas setelah akun resmi BEM UGM mengeluarkan pernyataan permintaan maaf terkait kegaduhan yang terjadi. Pernyataan tersebut justru memicu pertanyaan baru di kalangan publik mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di internal organisasi mahasiswa tersebut.
Fenomena Aktivis yang “Digembungkan”
Menggunakan metafora tadi, sebagian pengamat menilai ada fenomena “sapi glonggongan” dalam dunia aktivisme kampus—tokoh mahasiswa yang “digembungkan” secara cepat oleh ruang publik digital.
Mereka dipromosikan melalui media sosial, diundang ke berbagai forum, dan sering dijadikan “wajah gerakan mahasiswa”. Popularitas datang sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan proses pembentukan intelektual dan pengalaman organisasi yang panjang.
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi.
Deretan Kontroversi Ketua BEM yang Pernah Viral
Beberapa tahun terakhir, sejumlah ketua BEM dari kampus besar juga pernah menjadi sorotan publik karena aksi atau kontroversi tertentu.
Pada 2 Februari 2018, Ketua BEM Universitas Indonesia saat itu, Muhammad Zaadit Taqwa, menjadi viral setelah memberikan “kartu kuning” kepada Presiden Joko Widodo dalam acara Dies Natalis UI di Balairung UI, Depok. Aksi tersebut menjadi simbol kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah.
Kemudian ada Melki Sedek Huang, Ketua BEM UI periode 2023–2024. Namanya melambung setelah meme tikus berwajah Puan Maharani muncul di atas gedung DPR RI sebagai bentuk kritik terhadap lembaga legislatif.
Namun, perjalanan Melki kemudian diwarnai kontroversi. Ia dinyatakan terbukti melakukan kekerasan seksual berdasarkan investigasi Satgas PPKS UI. Sanksinya adalah skors akademik satu semester, larangan mengikuti kegiatan kemahasiswaan, serta pembatasan aktivitas di lingkungan kampus.
Kasus tersebut sempat viral di media sosial sebelum akhirnya diputuskan secara resmi oleh pihak universitas.
Berikutnya adalah Verrel Uziel, Ketua BEM UI 2024. Namanya mencuat saat memimpin aksi demonstrasi penolakan RUU Pilkada di depan Gedung DPR pada 22 Agustus 2024. Ia memimpin sekitar 1.100 mahasiswa UI yang mengecam DPR karena dianggap menganulir putusan Mahkamah Konstitusi.
Namun beberapa bulan kemudian, Verrel diberhentikan secara tidak hormat pada Januari 2025 setelah terbukti melakukan plagiarisme dalam penyusunan kajian untuk audiensi dengan DPR RI. Kajian tersebut diketahui mengambil materi dari aliansi Net Zero Society tanpa izin dan tanpa sitasi yang layak.
Aktivisme Cepat Viral, Cepat Pudar
Fenomena ini kerap digambarkan seperti kembang api—bersinar terang dalam waktu singkat, tetapi cepat padam.
Popularitas yang dibangun melalui kontroversi di media sosial seringkali membuat seorang aktivis terlihat besar dalam waktu singkat. Namun ketika diuji secara substansi, kedalaman gagasan dan rekam jejaknya belum tentu sebanding dengan popularitas yang diperoleh.
Kontras dengan Aktivis Mahasiswa Masa Lalu
Jika dibandingkan dengan generasi aktivis mahasiswa masa lalu, perbedaan proses pembentukan terlihat cukup mencolok.
Pada masa Reformasi 1998, misalnya, aktivis mahasiswa menghadapi risiko besar: penangkapan, penculikan, penghilangan paksa, hingga pembuangan politik. Diskusi berlangsung di ruang-ruang kecil dengan pengawasan aparat. Mereka membaca literatur serius, berdebat panjang, dan menyusun analisis politik sebelum memutuskan turun ke jalan.
Keberanian mereka bukan sekadar retorika, melainkan konsekuensi dari pilihan hidup yang sadar akan risiko besar.
Tantangan Aktivisme di Era Media Sosial
Di era digital saat ini, aktivisme menghadapi dinamika yang berbeda. Media sosial memberi panggung besar bagi siapa saja yang mampu mengeluarkan pernyataan keras dalam kalimat singkat.
Algoritma cenderung lebih menyukai kontroversi dibanding kedalaman analisis. Akibatnya, yang cepat muncul ke permukaan bukan selalu mereka yang paling matang secara intelektual, tetapi mereka yang paling cepat memicu perhatian publik.
Di sinilah metafora “sapi glonggongan” kembali terasa relevan: terlihat besar di permukaan, tetapi belum tentu memiliki substansi yang sepadan.
Sebagian pengamat bahkan menilai bahwa dalam beberapa kasus, aktivis mahasiswa bisa saja menjadi bagian dari permainan kepentingan yang lebih besar, baik dari aktor politik, kelompok kepentingan, maupun figur berpengaruh di belakang layar.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa aktivisme mahasiswa idealnya lahir dari proses intelektual yang panjang, integritas yang kuat, serta keberanian yang disertai tanggung jawab moral—bukan sekadar popularitas sesaat di ruang digital.
***
“Sapi Glonggongan” di Dunia Aktivisme Kampus: Fenomena Ketua BEM Instan yang Mendadak Viral
Sunday, 22 March 2026, 09:19 am



